Karawang, Duta Priangan — Bagi Drs. Rohman, M.Si., angka 1,4 juta ton gabah kering bukan sekadar statistik yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Sebagai Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang, membayangkan angka fantastis itu sebuah catatan dari ribuan tetes keringat petani yang jatuh ke tanah dihari-hari aktivitasnya.
Saat membaca narasi capaian Karawang sebagai lumbung pangan nasional, mata Rohman berbinar. Ia melihat ada pengakuan yang tulus terhadap usaha yang selama ini sering kali dianggap sebelah mata.
“Berita ini bukan hanya tentang keberhasilan pemerintah, tapi tentang martabat petani kami,” ujar Rohman dengan nada tenang namun tegas, saat ditemui awak media di ruang kerjanya belum lama ini.
Dalam pandangan Rohman, narasi mengenai swasembada pangan sering kali terjebak dalam bahasa birokrasi yang kaku. Namun, ia mengapresiasi cara publik melihat Karawang saat ini: sebuah daerah yang berani melawan arus industrialisasi demi menjaga piring nasi bangsa.
Ia menekankan bahwa kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang “mengunci” hampir 88.000 hektare sawah adalah sebuah perisai. “Tanpa keberanian politik dari Bapak Bupati (Kang Aep), lahan-lahan itu mungkin sudah berubah jadi gudang atau pabrik. Kami di dinas memastikan ‘perisai’ itu tetap kokoh secara teknis di lapangan,” lanjutnya.
Bagi Rohman, tugas dinas yang dipimpinnya bukan hanya soal bagi-bagi benih atau pupuk, melainkan membangun ekosistem yang membuat petani merasa dihargai. Salah satunya melalui insentif pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) yang telah dijalankan.
Rohman menyadari, tantangan di tahun 2026 akan semakin berat. Kementerian Pertanian memberikan target produksi yang lebih tinggi. Namun, ia optimistis selama komunikasi antara pemerintah dan petani tetap hangat dan manusiawi.,(JS)







