Oleh: Dr. Irvan Kristivan, M.Pd
Peringatan Hari Guru Nasional Momentum Bersejarah Bagi Guru dan Kemajuan Pendidikan
Mungkin mereka yang tidak paham esensi dan manfaat kegiatan itu menganggap bahwa itu hanya sekedar Ceremonial atau perayaan hura-hura semata. Padahal hal itu justru merupakan agenda penting yang akan kita jumpai setahun sekali tepatnya Tanggal 25 November. Kenapa seperti itu ?
Pertama
Sesuai dengan Permendikdasmen No. 7 tahun 2025, sebagai tenaga profesional tugas utama guru bukanlah hanya sekedar mengajar saja, melainkan ada 7 (Tujuh), yaitu:
- Mendidik
- Mengajar
- Membimbing
- Mengarahkan
- Melatih
- Menilai, dan
- Nengevaluasi
Kedua
Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka seorang guru harus memiliki 4 kompetensi, sebagaimana tertuang dalam Perdirjen 2626 tentang model kompetensi guru bahwa guru harus memiliki kompetensi:
- Kepribadian
- Pedagogik
- Profesional
- Sosial
Keempat kompetensi itu harus benar2 dimiliki oleh guru agar ekosistem pembelajaran di kelas dapat: - Menyenangkan
- Bermakna
- Berkesadaran penuh
Tanpa memiliki kompetensi tersebut maka pembelajaran hanya akan terjebak pada hafalan saja Bukan membentuk peserta didik agar jadi manusia seutuhnya.
Ketiga
Kegiatan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Biasanya akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti kegiatan olahraga & seni. Hal itu akan berdampak dalam meningkatkan kompetensi guru terutama kompetensi sosial. Lebih dari 300 hari dalam setahun guru menjalankan tugasnya dengan baik meski menghadapi siswa yang kurang pintar, susah diatur, dan berbagai permasalahan di dalam kelas bahkan harus menghadapi orang tua yang rewel. Hal itu tentu memerlukan kompetensi sosial emosional yang tinggi. Tanpa memiliki kompetensi sosial emosional yang tinggi, nonsen jika guru mampu menjadi guru yang profesional. Maka dari itulah satu tahun sekali kompetensi sosial emosional guru di refresh melalui kegiatan HGN.Melalui kegiatan HGN inilah guru berkumpul dan bertemu dengan guru yang berbeda sekolah bahkan berbeda jenjang. Disela-sela kegiatan interaksi dan pembelajaran bagaimana menghadapi peserta didik terbangun. Mungkin saja seorang guru merasa sudah menjadi guru yang baik dan profesional di kelas atau sekolahnya, namun ketika bertukar pengalaman dengan guru lain bisa jadi justru jauh dari kata profesional. Maka dari sanalah akan saling introspeksi dan memperbaiki diri agar pembelajaran selanjutnya lebih baik dan profesional.Tidak hanya itu dengan kegiatan HGN juga memungkinkan guru bertemu dengan berbagai komunitas belajar guru dan bisa bergabung di dalamnya. Seperti halnya kita ketahui di Kota Tasikmalaya ini ada beberapa komunitas guru yang berupaya meningkatkan kompetensi guru seperti, KKG, MGMP, Forum Guru Menulis, Pegiat Literasi Tasikmalaya, Pegiat Literasi Aksara Sunda, dan banyak lagi komunitas-komunitas guru di Kota Tasikmalaya yang konsisten meningkatkan kompetensi guru. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya guru di Kota Tasikmalaya yang telah melahirkan karya dan prestasi tidak hanya tingkat kota dan provinsi namun mampu berprestasi tingkat Nasional dan sudah diakui oleh Kemendikbud.
Melalui kegiatan HGN inilah guru berkumpul dan bertemu dengan guru yang berbeda sekolah bahkan berbeda jenjang. Disela-sela kegiatan interaksi dan pembelajaran bagaimana menghadapi peserta didik terbangun. Mungkin saja seorang guru merasa sudah menjadi guru yang baik dan profesional di kelas atau sekolahnya, namun ketika bertukar pengalaman dengan guru lain bisa jadi justru jauh dari kata profesional. Maka dari sanalah akan saling introspeksi dan memperbaiki diri agar pembelajaran selanjutnya lebih baik dan profesional.Tidak hanya itu dengan kegiatan HGN juga memungkinkan guru bertemu dengan berbagai komunitas belajar guru dan bisa bergabung di dalamnya. Seperti halnya kita ketahui di Kota Tasikmalaya ini ada beberapa komunitas guru yang berupaya meningkatkan kompetensi guru seperti, KKG, MGMP, Forum Guru Menulis, Pegiat Literasi Tasikmalaya, Pegiat Literasi Aksara Sunda, dan banyak lagi komunitas-komunitas guru di Kota Tasikmalaya yang konsisten meningkatkan kompetensi guru. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya guru di Kota Tasikmalaya yang telah melahirkan karya dan prestasi tidak hanya tingkat kota dan provinsi namun mampu berprestasi tingkat Nasional dan sudah diakui oleh Kemdikbud.
Tidak hanya itu dengan kegiatan HGN juga memungkinkan guru bertemu dengan berbagai komunitas belajar guru dan bisa bergabung di dalamnya. Seperti halnya kita ketahui di Kota Tasikmalaya ini ada beberapa komunitas guru yang berupaya meningkatkan kompetensi guru seperti, KKG, MGMP, Forum Guru Menulis, Pegiat Literasi Tasikmalaya, Pegiat Literasi Aksara Sunda, dan banyak lagi komunitas-komunitas guru di Kota Tasikmalaya yang konsisten meningkatkan kompetensi guru. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya guru di Kota Tasikmalaya yang telah melahirkan karya dan prestasi tidak hanya tingkat kota dan provinsi namun mampu berprestasi tingkat Nasional dan sudah diakui oleh Kemdikbud.
Mengapa tidak dilaksanakan pada hari libur ?
Jika dilaksanakan di hari libur, maka akan menyita waktu kebersamaan dengan keluarga. Bukankah keutuhan dan keharmonisan keluarga guru juga itu penting ?? Jangan salah jika dalam keluarga tidak harmonis, maka akan terbawa ke kelas yang pada akhirnya mengajarpun tidak akan baik yang ada malah emosi dan asal-asalan. Maka dari itu family time bagi guru juga sangat penting. Tidak hanya itu, orang tua juga harus faham bedanya Libur dengan daring. Perlu diingat juga bahwa Libur itu tidak ada pembelajaran sama sekali. Sedangkan Daring itu siswa tetap belajar dan ada tugas meski tidak tatap muka.
Bukankan selama 3 tahun covid kemarin siswa juga belajar daring ?.
Pembelajaran daring ini juga legal bukan ilegal. Dalam dunia pendidikan dikenal istilah pembelajaran syncronus, asyncronus, & hybrid. Pembelajaran tatap muka dan tidak tatap muka bahkan campuran tatap muka dan tidak tatap muka itu sudah diterapkan diberbagai negara dan berbagai jenjang. Dan justru kegiatan diluar kelas dan diluar sekolah ini harus dilakukan agar peserta didik belajar kehidupan yang sesungguhnya bukan hafalan semata. Biasanya ketika guru mengikuti kegiatan HGN, siswa diberi tugas dan ketika masuk akan dibahas atau dipresentasikan di kelas. Nah pembelajaran seperti ini dinamakan pembelajaran hybrid. Hal itu justru akan menumbuhkan kreatifitas peserta didik dan menumbuhkan nilai-nilai kejujuran peserta didik. Guru akan tahu siapa yang tidak jujur ketika tugas peserta didik dikerjakan oleh orang tuanya. Hal ini yang harus juga difahami oleh orang tua agar tidak men-juctice sebelah mata tanpa mengkonfirmasi lebih dalam dan mempelajari konsep pendidikan diera digital kita.
Ada orang tua bilang hak belajar anak terkurangi karena HGN
Hak belajar anak tidak terkurangi, karena belajar itu bukan hanya di dalam kelas, tetapi bisa dilakukan dimana saja.
Maka dari itu orang tua tersebut harus belajar lagi tentang konsep pendidikan atau pembelajaran. Saya justru mempertanyakan, orang tua tersebut apakah orang yang mengerti tentang pendidikan atau orang tua yang sekedar asbun ??? Perlu diingat juga kewajiban mendidik anak itu bukan hanya kewajiban guru melainkan kewajiban utama orang tua. Baik hybrid maupun tatap muka penuh
Guru2 sejak awal sudah disiapkan untuk bisa melaksanakan berbagai model pembelajaran. Justru hal itu harus dilakukan oleh guru agar guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dalam situasi kondisi yang fleksibel.
Seperti halnya kemarin ketika tiba-tiba covid, jika guru tidak siap maka pembelajaran tidak akan berjalan. Apa lagi jaman sekarang ini perubahan sering terjadi baik karena perubahan teknologi maupun perubahan karena alam. Sebenarnya pada awal tahun ajaran sudah disampaikan, bahwa berbagai kemungkinan dan kebijakan selalu berubah-ubah, maka orang tua harus dapat memahami jika banyak perubahan dalam pendidikan. Ya kecuali jika orang tua tersebut memiliki sentiment pribadi terhadap dunia pendidikan. Tentu hal itu akan berbeda. Seberapapun baiknya pembelajaran yang dilakukan guru tentu tidak akan ada baiknya. Seberapapun banyaknya prestasi guru tidak akan dihargai. (Penulis adalah: Kepala Sekolah SDN Gunungpereng, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya)









Comments 1